Sabtu, 12 Mei 2012

kopi aroma : time travel with a coffee machine...



sudah lama saya mendengar tentang "Kopi Aroma". 
Sudah sering pula saya menyesap nikmatnya dan harumnya kopi bikinan sebuah pabrik mungil di Bandung ini.  
Tapi saya selalu belum bisa cukup beruntung untuk bisa mengunjungi sang pabrik di kawasan jalan ABC di Bandung ini. 
Hingga akhirnya... suatu hari... saya, dengan si doi, dan beberapa orang teman, memutuskan untuk melongok ke toko kopi ini.


Bangunan tua itu berdiri di sudut jalan. 
Vintage, tentu saja. Dan hal itu saja sudah cukup bikin saya jatuh cinta.




Betapa beruntungnya saya... 
Hari itu benar-benar istimewa. 
Kami ditemani Mbak Tarlen dan Mas R.E. HArtanto, dan kebetulan si oom pemilik toko sedang ada di sana!
Walhasil, kami berhasil masuk ke dalam pabriknya!


Percayalah, teman.... 
Kalau kalian mendambakan sebuah perjalanan dengan mesin waktu...
"Kopi Aroma" adalah salah satu tempatnya!

.. Kopi Aroma... sedjak 1936

 biji-biji kopi yang siap diolah...

 
mereka mengolah biji-biji kopi yang berusia puluhan tahun.
"they treat coffee making, like wine making.."


 
 

 mesin-mesin ini tak henti hentinya membuat saya terpesona...
gosh.. i love the color, i love the sound, i love how they works..
and they are all MANUAL!
they are handsome...


 saya jatuh cinta dengan warna warna di pabrik ini.. hiks...


itu dia si oom.
Pak Widya, namanya...
generasi ketiga dari pemilik "Kopi Aroma". 
Selain bekerja sebagai 'tukang kopi', beliau juga menjabat sebagai dosen ekonomi, dan bendahara sebuah Yayasan Pendidikan di Bandung.
Dan ia mengajari kami banyak hal, pemirsa... 
Dari manfaat kopi robusta bagi pria dan wanita, sampai tips 7 M menjadi pengusaha sukses!  eheheh

 

dan satu quote beliau yang paling saya sukai dari kunjungan saya hari itu adalah..
" kalau tukang kopi ya bikin kopi"...
(beliau mengatakannya sambil mengoperasikan sebuah mesin
 yang mengebuli wajah dan tubuhnya dengan asap...) 







aaahhh .. saya sangat menikmati perjalanan saya ke Kopi Aroma di hari itu. 
Seperti berkunjung ke masa lalu dengan menaiki mesin mesin pembuat kopi. 
Terimakasih Oom Widya (dan mbak Tarlen, tentu saja)...
Untuk mengajari saya, betapa pentingnya untuk tetap kecil dan mencintai pekerjaan kita...




see ?
we were enjoying our time travel with the coffee machine! ;)

Minggu, 22 April 2012

menjadi turis di kampung tetangga.. ;)

inilah sebabnya kenapa saya sayang banget sama kota tempat saya, Yogyakarta.
saya bisa jadi turis tanpa harus bepergian jauh !!! yeiiy !!


servis kurungan, anyone?


even the mess of bird houses are artisticly correct!



well prepared village!



the public toilet! LOVE the composition!



these are the river of roofs!!



adorable chickens!



the secret alley? ;)



tak lupa menyangkutkan diri di pasar tradisional
yang penuh dengan kuekue dan ratusan makanan enak lainnya!


terus dilanjut nonton reog..
one kind of "Indonesian traditional trance dance"


dengan salah satu pemain Papermoon Puppet Theatre
yang jadi penarinya!!! woohooo!!


yeaaahh!!!
beginilah caranya saya menikmati Yogya!!!
isn't fun?!!! :D

Rabu, 18 April 2012

"Setjangkir Kopi dari Plaja" : kisah yang tak berhenti di atas panggung...

Baru saja saya mengakhiri pembicaraan dengan seseorang di telepon.

Tanpa terasa ada air yang menitik di sudut mata saya selama saya berbicara dengan orang tersebut di telepon.

Perasaan saya mengambang...

Dan teringatlah saya pada awal proses bagaimana air mata saya menitik lagi hari ini.

*****

Tahun 2008, saat saya dan Iwan Effendi bikin riset tentang pementasan teater boneka perdana untuk dewasa "Noda Lelaki di Dada Mona", saat itulah kami mendengar sebuah kisah pendek dari seorang teman, tentang seorang mahasiswa di tahun 60-an yang kehilangan kewarganegaraannya saat pecah peristiwa September 1965 karena ia dikirim untuk tugas belajar oleh Presiden Soekarno ke Rusia.

Sebelum ia berangkat ke Rusia, ia telah mengikat janji dengan kekasihnya untuk kemudian menikah setelah usai masa belajarnya di Rusia.

Dan sayangnya hal itu tak pernah terjadi. Sang mahasiswa mendadak dicabut kewarganegaraannya oleh pemerintah Orde Baru karena dianggap pro-Soekarno, dan belajar di negara komunis. Ia tak bisa pulang, tak bisa menghubungi keluarga dan kekasihnya secara tiba-tiba. Tanpa alasan yang dipahaminya.

40 tahun lebih telah berlalu, dan sang mahasiswa telah menyelesaikan studi S3, dan menjadi ahli Metalurgi di Kuba..

40 tahun telah berlalu, dan ia tetap memilih tidak menikah, demi memenuhi janjinya pada kekasih yang entah di mana...

Di masa pemerintahan Gus Dur, sang ahli metalurgi kemudian mendapat visa untuk bisa kembali ke tanah air... untuk menemui sejumlah keluarganya.

Visa yang hanya berlaku beberapa bulan itu digunakannya untuk mencari sang kekasih masa lalu...

Dari kisah yang saya dapat.. hampir setiap sore, sang ahli metalurgi naik bis dengan trayek yang sama dengan jurusan yang dulu, di tahun 60an, selalu ditempuh sepasang kekasih itu ...dengan harapan, ia akan berjumpa dengan sang kekasih masa lalu di dalam bis!

****

Kisah ini sangat melekat kuat di kepala dan hati saya. Mungkin dianggap terlalu drama oleh banyak orang... tapi tidak buat saya..

Ini kisah nyata... dan seorang anak manusia mengalaminya.

Mulai hari itu saya bertekad untuk, suatu hari, akan membuat karya yang saya dedikasikan untuk sang ahli metalurgi.

**

"Setjangkir Kopi dari Plaja", judulnya.

Secangkir Kopi yang disajikan dari Playa, sebuah sudut kota di Kuba..

Secangkir kopi yang terasa manis pahit dan juga getir..

Dengan bermodalkan jaringan internet 24 jam di rumah, dan berbekal sedikit keywords, saya mulai menjelajah dunia maya, untuk menemukan info tentang si ahli metalurgi.

Di sanalah saya berkenalan dengan sosok Pak Wi.

Saya beruntung...saya berjumpa dengan tak lebih dari 10 artikel mengenai beliau di dunia maya ini... dan satu hal yang menjadi kunci, saya bisa menjumpai alamat beliau di dunia maya.

Korespondensi di dunia maya pun saya mulai.

Saya mengucapkan salam, memperkenalkan diri, menyodorkan beberapa link video dan website Papermoon Puppet Theatre padanya, dan menyatakan kekaguman saya pada kisah hidup beliau.

Saya mau bekerja dengan sopan, pikir saya. Beliau masih ada, dan saya mau mengangkat kisah hidupnya ke dalam sebuah karya sederhana saya, maka saya harus meminta ijin.

Gayung bersambut, email saya dibalas dengan penuh sukacita.

Kali itu beliau menyatakan apresiasinya pada pementasan kami "MWATHIRIKA" yang kebetulan juga berlatarbelakang sejarah 65.

Itu pertama kalinya air mata saya menitik dalam proses "Setjangkir Kopi dari Plaja".

Satu pintu telah terbuka..pikir saya. Pintu kedua juga terbuka, setelah saya mendapati ternyata si penulis artikel-artikel mengenai Pak Wi, adalah kakak kelas saya di kampus! Betapa alam semesta !!!!

Beberapa kali saya dan Pak Wi saling membalas email.

Kami lebih banyak bicara mengenai kisah-kisah saat beliau masih menjadi mahasiswa, dan tak satupun kisah mengenai hubungan percintaannya keluar dalam tulisan-tulisannya.

Saya pun tak berani mengungkit kisah itu. Apalagi saya juga tahu, bahwa akhirnya sang kekasih masa lampau juga telah menikah, dan punya 4 cucu.

Saya sempat menawari untuk mengirimi naskah pementasan kami, tapi beliau tak merespon.

Sampai akhirnya saat kami akan memulai pementasan, Pak Wi berhenti menjawab email saya. Saya mengirimi beliau email berkali-kali tapi tak pernah berbalas.

Jangan-jangan beliau marah, pikir saya.. atau merasa terganggu.

Saya pun semakin berhati-hati untuk mencantumkan nama beliau, bahkan nama sang kekasih masa lampau nya dalam pementasan kami.

Dan pementasan tetap kami gelar, meskipun email-email terakhir saya tak pernbah berbalas. Sebelum pertunjukan kami digelar, selama 16 kali,kami selalu berdoa bersama, dan menyebutkan bahwa kisah ini kami dedikasikan penuh pada cinta mereka yang masih ada.

****

Pementasan pun usai.

Toko barang antik yang kami gunakan menjadi panggung pertunjukan, sudah kembali menjadi toko barang antik. Boneka-boneka sudah kembali kami simpan dengan rapi, syukuran sudah kami gelar, dan kami sudah mulai menggarap karya baru kami yang lain.

Email ucapan terimakasih dan kabar bahwa pementasan sudah berhasil kami gelar, sudah saya kirimkan pada Pak Wi.

Tapi tetap tak berbalas.

Hingga sampai pada suatu hari, salah satu sahabat saya yang bekerja di Deplu memberi kabar, bahwa rekan sejawatnya akan ada yang berangkat ke Kuba. Saya pun tergopoh-gopoh menyiapkan satu paket hadiah kecil untuk saya titipkan agar bisa diberikan pada Pak Wi.

Sekeping DVD dokumentasi pementasan "Setjangkir Kopi dari Plaja" , 3 buah katalog pertunjukan "Setjangkir Kopi dari Plaja" dan 3 lembar surat yang saya tulis tangan.

Hadiah kecil itu terbang ke Kuba, dan suatu sore saya menerima email. Dari Pak Wi. Setelah 4 bulan tak berkabar.

Beliau mendapat telepon dari KBRI untuk mengambil paket kecil dari saya!

dan segera setelah hadiah kecil itu dibuka, dan DVD itu ditontonnya, beliau kembali mengirim kabar pada saya.

Tepat di sebuah malam, 4 bulan setelah pementasan kami usai digelar, 15 menit sebelum ulang tahun Papermoon Puppet Theatre yang ke-5 berakhir, saya menerima email dari Pak Wi.

Beliau terharu, mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya dan berkata "siapalah saya, sampai karya ini didedikasikan untuk saya?"

Dan di akhir emailnya, beliau meminta saya untuk mengirim sebuah katalog "Setjangkir Kopi dari Plaja", untuk kekasih masa lampau nya, yang akan berulang tahun yang ke-70 di bulan April, bulan yang sama dengan ulang tahun Papermoon.

Dan di saat itulah, air mata saya dan Iwan, mengalir deras tak berhenti, lama sekali. Sebuah perasaan aneh mendesak di dada saya.

Saya tidak pernah menyangka, membuat sebuah karya pertunjukan, teater boneka, bisa menggandeng saya sampai sejauh ini.

Memang bukan blow up media yang kami dapat dari pementasan mungil kami kali ini, bukan diliput televisi, dan bukan mendatangkan keuntungan materi yang bertubi..

Tapi sebuah rasa yang benar-benar menghantam ulu hati.

Ini bukan drama. Ini bukan sekedar pementasan yang ditonton orang dengan lampu menyala di atas panggung, dan segera berakhir saat lampu mati dan tepuk tangan bergemuruh.

*****


Pagi ini, saya menerima telepon...

Tenggorokan saya tercekat begitu mendengar namanya disebutkan.

Ia bertanya, saya siapa.. dan kenapa ada sebongkah kardus saya kirimkan untuknya.

Ia tak berani membukanya, sebelum ia memastikan, siapa pengirimnya.

Dengan gemetar saya memperkenalkan diri, siapa saya, siapa papermoon Puppet Theatre, dan darimana saya mendapat alamat beliau.

Dan begitu nama Pak Wi saya sebutkan, saya bisa mendengar napas yang tertahan di ujung sana.

Selepas itu suaranya terdengar begitu renyah, cerdas, hangat, dan riang.

Esok hari ia berulang tahun yang ke 71.

Saya ucapkan selamat ulang tahun untuknya.

Ia mengucapkan banyak terimakasih pada kami semua.

Obrolan panjang terjadi antara kami berdua.

Saya titip salam kepada suami tercintanya.

Kami berjanji untuk berjumpa, dan beliau mengundang saya untuk mampir ke rumahnya kalau kelak datang ke kotanya..

saya ucapkan doa agar beliau sehat dan bahagia selalu..

****

Pagi ini saya menerima telepon..

Dari kekasih masa lampau Pak Wi.

***

Dan saat saya mengakhiri pembicaraan...

ada air menitik di sudut mata saya.

terimakasih, alam semesta..

***


yogyakarta, 18 april 2012

www.playapuppet.blogspot.com

Minggu, 08 April 2012

a short kyoto trip ..


setelah kepantek di studio selama sebulan,
akhirnya eik dan si doi dapet "hadiah" jalan jalan ke kyoto selama 3 hari !! yeiiy !!
dengan naik shinkansen selama 3 jam dari tokyo ke kobe (karena harus ada miting dulu di kobe) .. eh bener gak ya 3 jam? *deng dong! hhehe..

eh.. iya.. dengan naik shinkansen ini, kita ngelewatin gunung Fuji !! doi besar sekali !! ohoh...
eh.. terus kami naik kereta selama hampir 1 jam ...



maka sampailah kami di kyoto !! yeiiy !!
ternyata kyoto ini sister city-nya jogja, pemirsa!
di kota ini banyak universitas, terus kultur tradisi nya masih kuat, bangunannya nggak menjulang menjulang amat kayak di tokyo, terus nggak terlalu hectic, kotanya lebih santai, dan makanannya cenderung manis..




begitu banyak bangunan bersejarah di kota ini. Dulu kyoto ini sempet jadi ibu kota Jepang jugak.. dan memang banyak banget istana istana dan rumah rumah panglima di jaman edo yang masih terawat apik. kuil kuil nya juga banyak..
gak sempet datengin satu satu.... hiks.. tapi kita sempet jugak dateng ke beberapa tempat yang memang ciamik!






dan di hari terakhir, kami memutuskan untuk ke arima.. 1 jam naik kereta yang sambung menyambung dari kyoto..


arima ini tempat pemandian air panas yang sangat terkenal..


tapi kita ke sana bukan buat mandi mandiii, yaaa.. ehehe.. tadinya sih rencananya begitu... tapi apa hendak di kata, tujuan pertama kami ternyata ngabisin waktu 3 jam sendiri untuk dieksplor !!! dan kami harus buru buru ngejar shinkansen utk balik ke tokyo..

yak! kami bertandang ke tempat ini !! arima toys and automata museum !! ehehhe..
meskipun kota kecil di pucuk gunung ini letaknya jauh minta ampun dari pusat kota, tapi ternyata mereka punya museum 6 lantai yang sangat berhasil bikin saya, doi dan temen temen pengsan, sodara !!!

baru masuk aja udah disambut beginian!! mana tahaan?!!
dan maka.. terjadilah 3 jam cuma ngendon di museum yang nggak gigantis ini..
ehhehe.. PUAS !!!

meskipun cuma pendek banget waktu kita selama di kyoto, tapi lumayan banget buat bekel kita untuk mau balik lagi ke sana.. eeheh..



kadang kadang jadi turis itu enak juga ternyata ya? ;)




Sabtu, 31 Maret 2012

one photo shoot day...

helloww!!
aiiih!! sebenernya masih buanyak banget cerita yang belum saya posting hasil oleh oleh dari Jepang kemarin.. hiks..
tapi apa mau di kata.. sebenernya saya agak bosen sama outfit baju winter yang demikian demikian saja adanya.. ehehhe..
tapi saya janji kok.. bakal posting hal hal cihuy tentang jepun di postingan saya selanjutnyaa!! :D

jadii.. biar agak seger dikit ini warna di blog saya.. (kuwacikecil ganti kulit jadi putih polos. di tengah hectic-nya kerjaan saya sekarang, agaknya saya butuh ngeliat banyak yg polos polos dulu .. ehhe), saya mau posting hasil photo shoot saya beberapa minggu lalu sama Media Indonesia. ;)


iyaa... saya beruntung luar biasa diliput Media Indonesia dan ditulis satu halaman penuh!
so honored!!

dan sesi pemotretan yang seru ini bener bener cihuy dengan sang reporter sekaligus fotografer cihuy, mbak Retno Hemawati.. ;)

so.. here are the photos, pals!



pertamanya kita coba foto foto di dalem studioku..

it's my heaven.. but.. we need more lights!



terus kita mutusin untuk foto di depan rumah...



pintu ini emang udah puluhan kali jadi background foto saya ..
dan kita tetep sepakat, bahwa spot ini adalah spot terbaik!





nice, huh?
eheheh... pintu ini yang bikin saya bertekad,
kalo punya rumah harus punya pintu yang ciamik!
..buat background foto.. ehehhe


eh.. apa? kopernya?
ehehe.. yes.. i am a vintage suitcase freak!

***